Showing posts with label notes. Show all posts
Showing posts with label notes. Show all posts

Sunday, June 10, 2012

Mengenal sosok atau isi

Mengenal sosok atau isi menjadi bagian "pilihan" dari kehidupan kita yang saya anggap susah untuk mengaplikasikannya ke dalam dunia nyata.

Kebanyakan dari kita -termasuk saya- ketika menerima kesan kehidupan ini acapkali keterusan terpaku pada reaksi pertama, sehingga hal itu tak pelak menjadikan kita terlena. Sebagai analogi, mungkin bisa kita contohkan ketika melihat buah.

Mangga
Saat melihat buah mangga hal pertama yang kita inginkan tentu saja adalah buah mangga yang secara "kasat mata" terlihat bagus, kulit luarnya nampak halus dan segar. Buah halus tersebut menjadi pilihan karena ada kecenderungan "biasanya" isinya bakal terasa manis serta enak. Hal "kebiasaan" inilah yang seolah-olah menjadi patokan. Kita telah menjadi terpatri pada patokan sebab keadaan yang "biasa" kita temui. Kita menjadi lupa bahwa adakalanya yang "biasa" itu sejatinya tak semuanya berlaku tepat lantaran tak jarang yang terlihat bagus dari luar toh adakalanya isinya tak sesuai harapan.

Dan karena faktor "kebiasaan" memilih pada yang tampak bagus dari luar itu pulalah maka pada kesempatan lain tak jarang yang kita lakukan adalah tak selalu memperhatikan buah mangga berkulit-luar layu, berbentuk bopeng, dan tampak buruk rupa. Kita telah menjadi 'terbiasa' pada satu kesimpulan bahwa yang terlihat jelek dari luar maka jelek pula yang akan kita peroleh di dalamnya.
Merenungi 'kebiasaan' tersebut ada yang butuh saya renungi, yang pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa sejatinya apa yang kita lakukan di luar kebiasaan itu tak selalu benar adanya.

Karena pemahaman tersebut, maka hal yang acapkali kita lakukan dalam menjalani pergaulan hidup bersama sesama manusia akhirnya kita juga menjadi 'terpaku' pada kulit ataupun sosok dibanding isinya.

Pada kebiasaan yang "nampak" bagus kita menjadi terlena, sehingga tak jarang kita selalu setuju, sepakat, serta mengiyakan omongan orang-orang yang terlihat bagus penampilannya, orang-orang yang nampak halus tuturkatanya. Beruntung kalau kita selalu mendapat isi pembicaraan bagus pula dari mereka yang nampak halus itu, akan tetapi bagaimana kalau yang kita peroleh adalah hal tak bagus dan tak sehalus kulitnya..?

Begitu pula sebaliknya, tatkala kita selalu menyingkirkan buah mangga yang bopeng sepertinya hal itu serupa dengan ketika kita juga tak menghiraukan pembicaraan orang yang terlihat jelek, bertampang amburadul, serta berpenampilan lusuh. Padahal bukan tidak mungkin adakalanya isi -pembicaraan- orang bertampang 'jelek' tersebut malah mengandung petuah-petuah bijak serta ajakan manis dalam menjalani hidup ini.
Kurangilah rasa ingin tahu Anda tentang orang, perbanyaklah rasa ingin tahu tentang ide, gagasan, dan pemikiran.  [Marie Curie (1867-1934), fisikawan asal Prancis]
Nah, menyikapi "kesan" kita yang acapkali hanya terpaku pada 'penampakan' kulit luar di atas, sepertinya hal yang wajib kita aplikasikan dalam hidup ini adalah agak sedikit melawan kebiasaan untuk jangan pernah menjadi "terpaku" pun 'terlena'. Bahwa mempelajari isi itu tak cukup hanya dengan melihat yang 'nampak' dari luar saja, jadi mau mengenal sosok atau isi. [uth]
________________________________________________________
An illustration of mengenal sosok atau isi is taken from google - forgot linksource.
read more >>

Thursday, October 20, 2011

Alkhamdulillah ya, sesuatu banget..!

Begitu membaca judul journal ini, pasti yang ada dibenak teman-teman semua langsung menuju pada sosok Syahrini, penyanyi yang sedang melejit kiprahnya tersebut. Ya, memang benar adanya, bahwa frase itu memang saya lansir dari ucapan beliau.

"Alhamdulillah ya",  itu adalah kata-kata yang acapkali terucap dari  penyanyi Syahrini di berbagai kesempatan yang bisa kita simak melalui beberapa media massa. Ungkapan itu memang pada akhirnya menjadi popular dan membudaya pada sebagian masyarakat Indonesia. Bahkan menjadi "sesuatu banget"  tatkala kata-kata itu juga merakyat di sebagian kalangan warga Malaysia.
Pada dasarnya secara pribadi saya juga telah memiliki pengalaman serupa pada kehidupan ini. Bahwa frase "Alhamdulillah" itu dulu selalu saya dengar dari suara Mbah Uti (nenek) ketika menyatakan satu hal yang dijumpainya.

Kamdulilah Leee, aku wus mbok sambangi. Seneng rasa atiku bisa menangi awakmu nyambut-gawe iki...!
Kamdulilah nakk, saya sudah kalian tengok (sambangi). Senang hatiku ini karena masih bisa melihatmu sampai dewasa dan bekerja.

Syahrini
Mungkin teramat jarang yang bisa mengerti serta paham maksud dari kata kamdulilah diatas. Kata kamdulilah  sebagaimana yang diucapkan oleh Mbah Uti itu berasal dari kata Alkhamdulillah juga, tak lain dan tak bukan adalah ungkapan pujian kepada Tuhan, "Puji Tuhan" atau "Segala Puji hanya milik Allah"

Awalnya dulu saya sempat menentang dan beradu argumen dengan Mbah Uti tersebut, ya mungkin kelihatannya ini adalah perilaku yang berani pun 'nglunjak' kepada orang tua. Namun, dengan tanpa memikirkan hal itu saya tetap memberanikan diri untuk menyanggah apa yang diucapkan beliau.

Adu argumen itu terjadi bukan karena perubahan kata dari Alkhamdulillah menjadi kamdulilah, saya masih sangat mampu memahami lidah Jawa kalau mengenai hal tersebut. Adu argumen terjadi melainkan karena ada satu kejadian, tepatnya yaitu  pada saat ada satu kabar yang kurang menggembirakan namun karena sudah menjadi terbiasa maka Mbah Uti tetap mengekspresikan kekagetannya dengan merujar "Kamdulilah". Ya, meski intonasinya terdengar sangat kaget, akan tetapi saya tetap tak bisa menerima begitu saja hal tersebut. Yang ada diotak saya adalah bahwa bukan pada tempatnya kita mengucapkan Puji Tuhan didepan orang yang sedang terkena kesedihan serta dirundung malang.

Endingnya, karena saya menerapkan adat dan norma tata susila untuk tak selalu bersikap 'ngeyel' pun menentang terhadap orang tua, maka yang terjadi adalah tetap saya biarkan ucapan Mbah Uti  itu berlanjut.
Mbah uti telah berpulang kepangkuan-Nya sekitar dua tahun lalu, akan tetapi yang terjadi belakangan ini saya telah diingatkan kembali oleh sering terdengarnya   frase "Alkhamdulillah ya" milik Syahrini. Dan alasannya pun terlihat tak jauh berbeda dengan alasan yang diungkapkan oleh Mbah Uti dahulu. Yaitu ketika ditanya, yang dapat kita dengar adalah bahwa Syahrini mengaku gembira karena ungkapan khasnya itu mampu menjadi tren, hal itu terbukti dengan mudah dapat kita dengar dari suara banyak orang di berbagai lapisan pun kalangan. Menurut Syahrini, kata-kata itu diungkapan lantaran masuk dalam kategori bahasa yang baik. Sebagaimana saya lampirkan dari detikHot yaitu tepatnya saat diwawancarai pihak DahSyat RCTI pada Rabu 7 Sepetember lalu.

"Bukan bangga tapi senang, daripada dijejali bahasa kotor, mendingan bahasa yang baik. Insya Allah berkah. Aku ditelepon sama sahabatku di Malaysia, dia juga bilang 'Alhamdulillah ya'," [Syahrini]

Yang menjadi pembeda hanyalah mengenai tanggapan orang-orang  yang mendengarnya. Jika dulu tak jarang saya sebagai salah satu pendengarnya  menentang dan menuntut Mbah uti agar selalu berlatih, maka yang terjadi kali ini  masyarakat yang awalnya adalah penduduk twitter  justru menjadikan frase ini bertambah booming. Awalnya di Twitter orang sering menuliskan, 'Syahrini move on' dengan hashtag #Alkhamdulillahya.

Sekali lagi Syahrini mengaku sangat senang ungkapan khas-nya menjadi populer di kalangan masyarakat, sehingga karena saking populernya ucapan yang dilontarkan oleh Syahrini itu juga telah mengundang salah satu penyedia jasa layanan telepon selular untuk menggunakannya sebagai nada dering.

Terlepas kebenaran pun kesalahan yang terjadi, inilah kenyataan yang sedang kita hadapi dalam bertata-bahasa dewasa ini. Tak harus menjadi Innalillahi ataupun Astaghfirullah, karena semua keadaan nyatanya sudah bisa diwakili dengan frase Alkhamdulillah yaa... Sesuatu banget. [uth]
.
~Ditulis dalam keadaan sedang galau bertata-bahasa~
_________________________________________________________
An  ilustration is taken from detik.com without permission.
.
read more >>

Wednesday, October 5, 2011

Tak merasa jijik dengan kentut

Hadapi dengan senyuman
Semua yang terjadi
Biar terjadi .
Hadapi dengan tenang jiwa
Semua... Kan baik baik saja

positif-negatif
Sayup-sayup terdengar lagu yang didendangkan oleh DeWA mengingatkan saya untuk musti kembali merenung tentang apa yang sudah terjadi dan saya alami sampai dengan saat ini. Ya, meski ada yang mencemooh bahwa bagian dari saya tak jauh dari kentut yang ajaib toh semua yang terjadi itu musti saya biarkan untuk terjadi, akan lebih baik kalau saya hadapi dengan tenang jiwa, lantaran dengan begitu semua akan baik-baik saja.

Disisi lain saya berterimakasih karena sudah di-ingatkan untuk memposisikan diri menyerupai kentut, terimakasih saya ucapkan. Semoga saya tetap bisa berpikir jernih dan obyektif serta tak berburuk-sangka, saya akan lebih memandang bahwa hal itu dilontarkan kepada saya sebagai bagian pengingat guna merenungi diri. Bahwa kentut, mungkin buat sebagian orang merupakan hal yang sangat tak disuka karena memang terkadang baunya menjijikkan. Akan tetapi saya tak mau memandang seperti itu, saya akan tetap berusaha untuk memandang pun mendengar suara kentut sebagai anugerah kesehatan dari Yang Maha Kuasa. Bukankah tak enak rasanya ketika kita tak bisa kentut...?

Sama halnya ketika kita juga harus dihadapkan pada benda sebagus pun sewangi apapun, toh tetap tak bisa dihindari hal negatifnya. Hanya saja ternyata masih teramat jarang kita mau mengakui sisi negatif itu. Sebagaimana orang masih teramat sedikit mau mengakui kadar alkohol yang memiliki efek buruk terhadap bagian tubuh ketika make-up atau sekedar menyemprotkan parfum ke sisi-sisi tubuh ini. Begitu juga ketika melihat bunga nan cantik, tak banyak dari kita (termasuk saya) mau mengingat hal pembusukan setelah bunga itu layu nanti.

Bila ketetapan tuhan
Sudah ditetapkan
Tetaplah sudah .
Tak ada yang bisa merubah
Dan takkan bisa berubah


Relakanlah saja ini
Bahwa semua yang terbaik
Terbaik untuk kita semua
Menyerahlah untuk menang

Tatkala bunga bangkai muncul, meski aromanya tak jauh dari kentut, akan tetapi terbukti sudah bahwa bunga itu kemunculannya tetap dielu-elukan bagi mereka yang merindunya. Bahkan karena kelangkaan akan mekarnya bunga bangkai itu, tak ayal bunga bangkai yang aromanya memang menyerupai bangkai tetap dikategorikan khusus diantara bunga-bunga lainnya. Itulah ketetapan Tuhan, Sang Pencipta Bunga. Tak ada yang bisa merubah dan tak akan berubah selain dnegan KuasaNYA.

Dengan berakhirnya lagu DeWA itu bukan berarti berakhir pula permenungan kali ini. Karena saya sadar, "sesadar-sadarnya" masih tetap abadi menempati posisi sebagai makhluk yang tak sempurna, untuk itu tak pelak sayapun terus akan butuh koreksinya. Dan karenanya, permenungan ini saya gunakan sebagai bagian untuk mengoreksi diri, lalu.. masihkan ini disebut sebagai hal yang ajaib..? Entahlah...

Yang jelas berpikir obyektif adalah hal yang ingin saya lakukan, memposisikan pola-pikir pada tempat negatif pun positif, keduanya akan selalu saya jalankan. Bahkan se-negatif apapun itu toh tak lantas kita (saya) wajib memusuhinya. Terimakasih atas kentut ajaibnya kawan... [uth]


____________________________________________
An ilustration is taken from here without permission

read more >>

Saturday, June 11, 2011

[ulang tahun] daun sebagai wadah tumpeng dan bubur tujuh rupa

Kalau kita melihat budaya barat dalam merayakan kesenangan biasanya menggunakan media makanan atau minuman, yaitu sebagai contoh adalah  champagne salah satunya, maka kita warga Indonesia ini entah kesepakatan dari mana tetap menggunakan acara (media) tumpengan sebagai lambangnya.

Yah, tumpeng sepertinya sudah identik dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Terbukti beberapa saat lalu ketika seorang teman saya merayakan ulangtahunnya di Belgia juga memamerkan sebongkah nasi berujud tumpeng.

Tumpeng adalah salah satu jenis makanan  berasal dari nasi yang dipresentasi-kan  berbentuk kerucut. Sejatinya bentuk kerucut itu tak lain adalah tumpukan nasi yang  menjulang ke atas.  Sementara wujud mengerucut keatas itu menyimpan pesan dan harapan agar kehidupan kita pun semakin “naik” dan menuju arah yang lebih  “tinggi”. Dengan alasan itulah bentuk kerucutwajib dipertahankan dan tidak tepat kalau harus diubah kedalam bentuk lain sekalipun hal itu teramat mungkin dilakukan agar menjadi indah dipandang dalam bentuk baru.

Membaca pokok bahasan “tumpeng” dalam acara ulang-tahun ini, semoga teman-teman akan sedikit berkenan serta merasa pas jika harus saya hubungkan dengan sajian  bubur (jenang) tujuh rupa. Yaitu satu sajian bubur yang biasanya diadakan pada saat mengadakan ritual “selapanan” bayi. Selapan sama dengan peringatan 35 hari, dimana pada hari ke-35 itu diistilahkan juga dengan “weton bayi” atau hari lahir bayi tepat dengan hari Masehi pun hari pasaran. Macam bubur tujuh rupa itu adalah,
  1. jenang abang
  2. jenang putih
  3. jenang abang dengan palang putih
  4. jenang putih berpalang abang
  5. jenang baro-baro (jenang putih yang ditaburi parutan kelapa dan irisan gula jawa)
  6. satu cawan berisi separoh jenang abang dan separoh jenang putih
  7. satu cawan jenang putih yang juga diselingi sedikit jenang abang
Pada dasarnya bubur tujuh rupa itu dibuat dari (dua) bahan dasar beras yang diberikan warna yaitu merah dan putih, disajikan dalam berbagai macam kreasi menjadi tujuh warna.  Dua warna itu mengandung maksud, warna merah adalah lambang ibu, sementara warna bubur putih sebagai simbul Bapak. Terjadi hubungan salang menyilang, simbiosis-mutualis ( timbal-balik), selanjutnya muncullah bubur baro-baro sebagai kelahiran seorang anak. Tersirat didalamnya tentang asal usul sebagai media pengingat agar kita sebagai anak ini jangan pernah durhaka kepada orang tua. Terlahir dengan penyertaan ikhwal lain yang berjumlah tujuh rupa itu jugalah maka yang juga semakin menguatkan tentang 'sedulur papat lima pancer, kakang kawah adhi ari-ari'.

Satu hal yang kali ini ingin saya jadikan sebagai titik bidik adalah keberadaan daun-daunan yang berwarna hijau. Ada daun bayem sebagai bahan sayuran mengandung makna berarap agar hidup mampu menjadi "ayem", atau ada daun kangkung yang mampu hidup didua tempat, darat dan air. Maka itu melambangkan agar kita manusia ini harus sanggup hidup di mana saja dan dalam kondisi apa pun jua. 

Selain itu, tumpeng pun bubur tujuh rupa disajikan pula dengan menggunakan alas daun pisang sebagai pelapis wadah (tambir)nya. Mungkin awalnya memang karena pada saat dahulu kala hanya ada daun pisang yang cocok digunakan sebagai alasnya. Namun ketika kita bisa memaknai lembaran daun pisang bukankah daun pisang itu sendiri memberikan banyak bahan pelajaran buat kita, bisa digunakan menutupi pun melindungi hal lain yang memang sedang butuh. 

Dan ketika kita bicara daun secara umum, semoga tak dianggap hanya othak-athik-gathuk yang tanpa alasan pasti dalam melihat dibalik makna tersebut. Bahwa tak terelakkan daun itu sendiri menyiratkan perputaran hidup kita, keberadaan daun juga berrotasi, setelah daun yang tua berguguran, daun yang muda pun musti mengganti peranannya, yaitu juga menjadi sumber hidup satu pohon karena telah mengumpulkan energi yang diberikan oleh Sang Surya. Tak berhenti disini, daun yang telah gugur bakalan jatuh kebawah dan akan menyatu dengan tanah menjadi kompos, selanjutnya kompos  yang ada itu bakalan menjadi pupuk dan sumber penghidupan si pohon, selalu berputar begitu seterusnya.

Maka, tatkala kita mengambil pemaknaan dari daun tersebut, kita tak ubahnya mereka, bahwa hidup kita ini toh teramat pantas kalau harus dikondisikan sebagai cermin dari bahan pijakan (alas), dimana disinilah terdapat beberapa lembar tulisan sebagai wadah dan atau tempat yang bisa kita jinjing layaknya tas.  Bisa kita tenteng kesana kemari, ada yang musti kita saring dan bawa sebagai bahan pun beban pada bagian tertentu, namun bukan berarti pada bagian (saku) tas lainnya dengan serta merta lalu seenaknya dibuang begitu saja.  Kesabaran me-manage nafsu serta kesadaran menyimpulkan makna akan bergantung pada pilihan diri-sendiri pada tas yang akan kita tenteng pun bawa.

Teruntuk DM yang hari ini sedang berulang-tahun,  saya ucapkan "Selamat Ulang Tahun yaaa, wish you get luck in your future endeavors"...  Dan semoga tas-tas yang adik jinjing penuh dengan makna dalam menjadikan hidup ini menjadi sebenar-benarnya manusia.  Terimakasih untuk uluran iklas persahabatannya selama ini. [uth]

_________________________________
Ilustrasi:


read more >>

Thursday, December 2, 2010

nagari monarkhi ngayogyakarta hadiningrat

Dua minggu yang lalu tepatnya pada 15 November 2010 ini saya berhasil ketemuan dengan Lik Bimo dan Aniezt, sekedar nongkrong sambil makan bakmi Jawa di Alun-alun Lor Jogjakarta. Walaupun sudah lebih dari dua jam, namun karena obrolan masih terasa asyik sementara warung bakminya sudah mau tutup maka kitapun sepakat berpindah tempat menuju Alkid (alun-alun kidul). Lumayan sampai menjelang Subuh kita baru bubaran...

Banyak hal yang kami obrolkan disana, baik menyangkut keadaan Merapi dan pernik-perniknya (yang kebetulan masing-masing dari semua memang menjadi relawan namun bukan satu team), ataupun masalah komplek lainnya. Hanya saja ada satu bahan pertanyaan yang saat itu sempat kuungkapkan secara sekilas kepada Aniez yaitu mengenai spanduk yang kami temukan disepanjang jalan bertuliskan "Jogja siap referendum - ndherek ngersa dalem", pun kalimat lain yang bernada serupa.

Pertanyaan saya sebenarnya klise, referendum buat apa...? Merdeka...? (seperti Timor-Leste).
Tanpa jawaban kita hanya nyengir saja menyikapinya, karena memang kita lahir dan besar di tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat yang pada dasarnya toh juga sudah sama-sama tahu bahwa sang pemimpin adalah Ngersa Dalem Kanjeng Sultan Hamengku Buwono.

TRESNA NGERSA DALEM
Sedari kecil kita (saya) tak pernah merasakan apa yang dinamakan "memilih seorang Gubernur Kepala Daerah". Dan kami warga kebanyakan warga Jogja sepertinya juga sepakat dan tak mau mengusulkan itu karena kami sebagai rakyat ini juga pingin langsung menjadi aktif (bukan pasif) dalam menjalankan fungsi kontrol kepada penguasa (Jogja).

Yang kita inginkan dari seorang pemimpin itu adalah yang bisa tahu dan mengerti tentang keadaan rakyat yang dipimpinnya, yang kita mau dari seorang pemimpin adalah yang bisa memanusiakan manusia (nenungsak'ke manungsa), tak ketinggalan yang kita harapkan dari seorang pemimpin itu adalah sosok yang mampu melayani karena hakekatnya adalah bertugas sebagai ABDI. Dan untuk kepemimpinan Sultan sampai dengan saat ini sepertinya juga tak berlebihan apabila saya katakan lumayan bisa mengayomi warga yang ada di Jogja.

Saya bukanlah orang yang berasal dari keluarga berada. Simbah putri saya pun dulunya hanya seorang batur a.k.a Pembantu. Jadi semoga tak muluk-muluk dalam memberikan satu nilai yang sifatnya obyektif nanti, khusunya mengenai Ngersa Dalem.

Sedari kecil saya berada dikampung dan sempet ngaji di komplek Masjid dan pesantren di lingkungan kampung yang di komplek Masjid tersebut dikitari oleh sarehan (kuburan). Dan semenjak Kanjeng Sultan yang kesembilan masih sugeng (hidup) ada satu pesarehan yang beberapa kali dikunjungi oleh Kanjeng Sultan dalam rangka ziarah kubur mengirim doa dan tak lupa ada simboliknya berupa kembang. Tradisi itu sepertinya berlanjut ke Ngersa Dalem yang kesepuluh ini. Dan semoga teman-teman tak heran kalau yang meninggal dikubur disitu dan di kunjungi ziarah kubur itu dulunya hanyalah juga seorang mBok Emban alias batur yang kelasnya sama dengan gedibal, pekathik, jongos ataupun kacung.

Yang musti di ingat adalah, bahwa kunjungan beliau ini mau pagi, sore, siang ataupun malam jarang sekali saya lihat adanya pengawalan khusus dari pihak keamanan..!

Pada tahun 1998, mungkin sebagian teman-teman sudah sempat mengetahui dan bahkan mungkin ada yang menjadi pelakunya. Bahwa hampir setiap kampus di semua kota besar Indonesia terjadi demonstrasi. Saya ingat sekali, sebagaimana yang saya lihat dengan mata kepala sendiri bahwa kala itu sebagai motor penggerak adalah Amien Rais dan teman-teman kampus yang ada di Jogjakarta.
Sementara sebagai buntutnya adalah adanya kerusuhan Mey 1998. Tak hanya Jakarta, banyak kota besar diluar Jakarta juga terjadi kerusuhan dan penjarahan, tak terkecuali kota terdekat dari Jogja yang rusuh adalah Solo (Surakarta Hadiningrat), selain penjarahan pun ada bakar-bakaran rumah disana. Hal ini merembet menuju arah barat dan telah sampai di Jalan Solo, namun apa yang kita saksikan saat itu...? "Sultan tak segan untuk turun ke jalan guna terjun langsung demi menjaga keamanan,m ketentraman, dan kedamaian bersama tanpa ada alasan untuk mengijinkan para perusuh bisa leluasa memerankan aksinya di Jogja."
Teringat sekali bahwa para Mahasiswa Jogja saat itupun menaruh hormat kepada Kanjeng Sultan.

Dan belum lama ini, kita semua bisa menyaksikan kiprah Sultan dalam menangani letusan gunung Merapi. Banyak yang musti membutuhkan solusi atas kejadian tersebut, namun tanpa berkoar-koar layaknya pejabat yang memberikan sumbangan berrupa ulartangga serta halma beliau bisa cancut taliwanda. Jauh dari perilaku seorang kepala pemerintahan yang bisa kita saksikan melalui pesawat Televisi bahwa berkehendak berkantor-ria di Istana Jogja (Gedung Agung), maka dari tempat beliau ngantor-pun tak pernah menjanjikan sesuatu kepada warga...!

Saya rasa tak perlu dijelaskan apa sebab Sultan di hormati dan dijunjung tinggi oleh para warga tersebut, teman-teman lebih pintar untuk menyimpulkannya. Sumangga...!

1988
Sultan wafat di Amerika Serikat. Pemerintah pusat menunjuk Wakil Gubernur Sri Paduka Paku Alam VIII sebagai Penjabat Gubernur.

1998
Paku Alam wafat. Terjadi kekosongan kepemimpinan karena belum ada aturan tentang suksesi kepemimpinan di Provinsi Yogyakarta. Rakyat ingin Sri Sultan Hamengku Buwono X dijadikan Gubernur periode 1998-2003.


POLEMIK KEISTIMEWAAN

Mengenai keistimewaan Jogja secara pribadi saya menyimaknya dari sekitar tahun 1998, artinya ini sudah saya alami selama lebih dari sepuluh tahun.
Pada tahun tersebut saya yang kebetulan sebagai ponakan seorang dukuh (Kepala Dusun) sempat ikut menggelar LAKU PEPE di Stadion Mandala Kridha. Di wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat ada wadah yang menampung aspirasi para dukuh dengan sebutan semar sumbogo. Laku pepe yaitu satu perbuatan berkumpul dilapangan sebagai kegiatan jemur diri karena merasa haknya tak terpenuhi.
Tradisi ini sebenarnya sudah ada semenjak jaman kerajaan dahulu.Dalam laku pepe, rakyat yang merasa haknya tidak terpenuhi berjemur di alun-alun kerajaan hingga raja memenuhi hak mereka. "Biasanya raja akan keluar dan harus mengabulkan permintaan rakyat"

Saat itu pemerintahan ada dibawah kepemimpinan BJ Habibie, dan sebagai Menteri Dalam Negerinya adalah Syarwan Hamid.


Awalnya, tatkala untuk pertama kalinya DPRD propinsi Yogyakarta melaksanakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilka-da), disana ada satu kebuntuan yang sumbernya dipicu oleh polemik keistimewaan yang berpusar pada persoalan kepemimpinan daerah. Perdebatan berkutat pada landasan hukum yang mesti dipakai dalam proses pengisian jabatan Gubernur. Terjadi beberapa kubu (tentu dibalik itupun banyak kepentingan yang menjadikan alasannya), di satu pihak ada yang berkehendak pada proses Pemilihan, sementara di lain pihak tak sedikit yang menghendaki terjadinya Pengangkatan langsung oleh Presiden yang disahkan melalui Keppres.

Keadaan makin seru ketika Depdagri melalui Syarwan Hamid sebagai Menterinya bersikukuh agar DPRD Jogja mengacu pada UU No.5 tahun 1974 yang berarti diadakan Pemilihan. (see, ini siapa yang berkepentingan..???!!!) Maka tak pelak Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat melawan kehendak tersebut. Hal ini masih tersimpan dalam memori saya sewaktu membuat spanduk bertuliskan "Ada syarwan Dhemit...? Jangan sungkan , guyur kemenyan..!!!"

Aspirasi kawula Jogja dengan tindakan laku-pepe itu membuat sikap fraksi-fraksi di DPRD propinsi Ngayogyakarta Hadiningrat akhirnya juga memainkan perannya. Mereka mengancam akan membubarkan diri jika Depdagri ngotot dengan sikapnya. Entah benar ataupun tidak, isu yang beredar saat itu adalah adanya skenario makro penghapusan status keistimewaan Yogyakarta. Dengn begitu ada banyak kepentingan birokrasi dengan alasan demokrasi bisa terakomodasi di kota Jogja ini.

Kemauan kawula Ngayogyakarta Hadiningrat demi menghendaki Ngersa Dalem sebagai Gubernur Kepala Daerah sudah tak bisa dibendung lagi. Sebagai puncak, maka pada hari Rabu, 26 Agustus 1998, sekitar 300 000 warga Jogja berkumpul untuk mengadakan sidang Rakyat demi pengukuhan Sultan sebagai Gubernur, bukan saja sebagai simbul Raja Jogja. Menolak diberlakukannya UU No.5 tahun 1974 mengenai proses Pilkada.

Dan pada akhirnya, B.J. Habibie sebagai presiden mengeluarkan Keputusan Presiden berisi Pengangkatan Sultan Hamengku Buwono X sebagai Gubernur YOGYAKARTA periode 1998-2003.
Inipun saya lihat pihak pemerintahan pusat masih setengah hati, karena pada kenyataannya pelantikan Kanjeng Sultan sebagai Gubernur baru dilaksanakan pada 3 Oktober 2003, artinya itu adalah pada (5 tahun) masa-masa akhir jabatan.

Waktu bergulir, rodapun berputar, namun yang kita lihat RUU itu hanya diendapkan sebatas bahan rapat saja.
Pada proses awal jabatan periode 2003-2008 tak begitu menemui kendala. Hal itu didasarkan pada landasan kerja berupa Rapat Paripurna pada 20 Maret 2003. Dalam Rapat tersebut, Dewan menyatakan bahwa Pilkada propinsi Yogyakarta mengacu pada UU 22/1999 dan PP 151/2000.

Pada lain hari berikutnya, selanjutnya dibentuklah Panitia Khusus Penyusunan Tata Tertib Pemilihan. Hanya saja Pansus Tata Tertib itu menuangkan aturan-aturan yang ada dalam Undang-undang No.22/1999 dan PP 151 tahun 2000, yang akhirnya bakalan bermuara pada Pemilihan.

Dan ketika Dewan mengadakan Rapat Paripurna lanjutan yang mengagendakan pengesahan Rancangan Tata Tertib Pemilihan hasil kerja Pansus, kantor DPRD didatangi ribuan massa yang menolak mekanisme Pemilihan. Sehubungan dengan keadaan yang tak kondusif itu, maka empat fraksi yakni Fraksi Amanat Nasional, Fraksi Persatuan, Fraksi TNI/POLRI, dan Fraksi Kebangkitan Bangsa mengusulkan agar Rapat Paripurna ditunda. Tapi, Fraksi PDI Perjuangan dan Fraksi Partai Golkar bersikeras agar Rapat Paripurna terus berlanjut.
Karena tak ada kata sepakat, Rapat Paripurna mengalami deadlock, empat fraksi yang mengusulkan Rapat Paripurna ditunda tidak memasuki ruang sidang saat Rapat Paripurna hendak dilanjutkan kembali setelah skorsing 15 menit untuk musyawarah Pimpinan Dewan dan Pimpinan Fraksi. Akibatnya, Rapat Paripurna ditunda sampai dengan waktu yang belum ditentukan.

Menyikapi hal ini semoga teman-teman bisa mengerti jika ada yang bertanya perihal REFERENDUM...!!! So, Where is the place of good politic is living reality....???, bukankah politik yang baik itu adalah yang melihat realitas yang terjadi pada warga yang bakal dipimpinnya...???

Tercatat terjadi tak kurang dari tujuh kali aksi massa di DPRD yang menuntut Dewan agar menetapkan Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jogja. Dalam setiap aksi, massa selalu menuding Dewan tidak aspiratif terhadap suara masyarakat. Bahkan kerap kali dilontarkan ancaman pengerahan massa secara besar-besaran sebagaimana yang pernah terjadi pada proses Pilkada 1998.

Hal ini terus berlanjut pada Rapat Paripurna 3 September 2003, sebagai kesepakatan akhir adalah adanya tiga poin pernyataan:
  • Pertama, menolak Rancangan Tatib Pemilihan karena PP No.151/2000 tidak mengakomodasi UU No.22/1999 khususnya penjelasan pasal 122 yang menyatakan bahwa isi keistimewaan adalah Pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari ketu-runan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mem-pertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam.
  • Kedua, pengisian jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur Yogyakarta ditempuh dengan cara Penetapan/Pengangkatan.
  • Ketiga, pembentukan panitia khusus Penetapan/Pengangkatan.
Dan saat itu pula, semua fraksi menyampaikan baik secara eksplisit maupun implisit untuk menetapkan/mengangkat Sultan Hamengku Buwono X dan Paku Alam IX sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kesepakatan semua fraksi untuk menempuh mekanisme Penetapan/Pengangkatan merupakan poin yang menarik. Pihak yang ingin memilih itu tidak jadi Pemilihan, pihak yang ingin menetapkan juga tidak terjadi Penetapan.
Polemik yang akhirnya menemukan solusi ini akhirnya oleh beberapa anggota Dewan (terutama yang pro-pemilihan) diminta agar hal ini dicatat sebagai minder heids nota, yaitu pencatatan dengan tujuan agar generasi sekarang dan mendatang yang mempelajari seluk-beluk pemerintahan Ngayogyakarta Hadiningrat dapat mengetahui..

MENUJU HUKUM YURIDIS
Di negeri ini, hal Penetapan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung tak memiliki landasan hukum. Membaca wacana tersebut, maka Dewan menggodog proses pelaksanaan Penetapan dari warga Ngayogyakarta agar tidak menumbuhkan kebijakan yang cacat hukum.

Langkah selanjutnya, Pada 18 September 2003, Biro Hukum Pemerintahan beserta Sekretaris Daerah propinsi Yogyakarta berkonsultasi ke Dirjen Otonomi Daerah Depdagri, dan diakomodasi untuk menggunakan UU 22/1999 sebagai konsideran Tata Tertib Penetapan/Pengangkatan.
Berbekal petunjuk pusat, Dewan pun mulai menyusun Rancangan Tata Tertib Penetapan/Pengangkatan Calon Gubernur & Calon Wakil Gubernur Yogyakarta.

Yang masih kita saksikan pada 9 Oktober 2003, melalui Mendagri Hari Sabarno maka dilantik lagi lah pasangan Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paku Alam IX sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jogja masa jabatan 2003-2008.
Pertanyaannya, Akankah Pilkada Jogja yang dalam prosesnya menihilkan partisipasi publik untuk berkompetisi dalam mengisi jabatan Gubernur & Wakil Gubernur kembali terulang sebagaimana dengan Pilkada 1998 dan 2003...? DARI SINILAH JAWABAN ATAS UNDANG-UNDANG KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA itu bisa kita dapatkan.
Dan yang tak boleh dilupakan pada status keistimewaan sebagaimana kehendak sebagian besar Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat adalah bahwa keberadaan keturunan Sultan dan Paku Alam masih dipertimbangkan didalamnya.


PEMERINTAH PUSAT (perihal monarkhi)
Menanggapi apa yang dilontarkan oleh SBY baru-baru ini sebenarnya sudah tak perlu lagi saya memaparkannya. Sudah teramat banyak teman-teman disini yang pintar mengungkapkan emosinya, baik yang pro pun yang kontra.

Punggawa iku sejatining panutaning warga, mula becik sira njaga lathi kanggo ajining-dhiri
Pemimpin itu semestinya adalah juga contoh bagi rakyat, maka akan lebih bagus jika mampu menjaga mulut demi harga diri.

Sikap saya secara pribadi sederhana saja,
  • Semoga Pak BY tak melupakan sejarah bahwa Ngayogyakarta Hadiningrat itu ada jauh sebelum Republkik ini ada, silahkan baca Maklumat 5 September 1945.
  • Harapan saya, ontran-ontran ini bukan satu pengalihan pokok bahasan atas skandal Gayus, Century, Rekenening Gendut, Anggoro-Anggodo, Arthalita 'Ayin' Suryani, (SBP)Sang Besan Pohan, Krakatau Still, dan masih banyak lagi.
  • Kami (khususnya warga Jogja yang baru saja terkena bencana) sepertinya saat ini tak sedang membutuhkan pidato sebagaimana anda sampai di Istana Bogor demi menggelar siaran pers dengan pokok bahasan Ariel dan LunaMaya, (meskipun barangkali menurut Bapak) mungkin case itu lebih besar dibanding yang lainnya, sehingga mampu menjembatani terciptanya jalan lurus demi Dana Aspirasi 15 Milyar. Apalagi hal itu tak membutuhkan Team Investigasi yang diketuai Adnan Buyung Nasution sebagaimana Anggodo-Anggoro, walaupun pada akhirnya keputusan team investigasi itu tak tahu dipakai buat apa...!!!
  • Akan lebih berguna apabila terus menangani korban bencana baik di wasior, Mentawai, ataupun Merapi yang nyata adanya membutuhkan supporting, bukan saja polemik...!
  • Tatkala ada yang bicara (terutama dari kalangan yang pro ucapan SBY) bahwa kami warga Jogja hanya salah persepsi, semoga anda pun bisa melihat membaca, dan menelaah kalimat yang pernah terucap, utamanya mengenai "tidak boleh ada sistem monarki yang BERTABRAKAN, baik dengan konstitusi maupun dengan nilai-nilai demokrasi" [uth]
____________________________________________________________________________________________________________
Sebagian data saya dapatkan dari dua kerabat yang kebetulan menjabat sebagai Dukuh (kepala Dusun) di Tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat.

Gambar Ngayogyakarta Hadiningrat saya capure dari stiker


read more >>

Friday, October 15, 2010

[Random Snippets-AIR] segelas air berdaun dadap sirep

Kami adalah tiga bersaudara, entah kesepakatan dari mana semenjak kecil masing-masing dari kami telah memiliki tugas yang musti dilakukan hampir tiap hari. Kakak perempuan tugasnya adalah memasak, sementara kakak lali-laki mencuci piring dan perkakas dapur yang sudah kotor. Karena keluarga kami tak memiliki sumur sebagai sumber air pun belum kuat untuk memasang jaringan instalasi listrik, maka tugas mengambil air disumur milik tetangga menjadi bagian dari kegiatan saya.

Satu hari setelah turun hujan yang sangat deras dan cukup lama, maka air yang ada disumur itu menjadi tak jernih lagi, maklum sumur tersebut tak beratap juga. Sementara pada saat itu tampungan air di gentong sebagai sarana utama dalam melakukan kegiatan di dapur sudah tak tersedia sama sekali.
Demi mengatasi hal tersebut maka dengan bersusah payah bermodalkan sepasang ceret, maka sepulang sekolah saya pergi ke sebuah belik di pinggir sungai (progo) yang jaraknya lumayan mampu membikin kaki pegel terutama bagi saya yang saat itu masih duduk dikelas dua Sekolah Dasar.

Niat awal untuk mengambil air terlupakan sudah karena begitu sampai dipinggir sungai bertemu dengan banyak teman yang serasa senang dan riang sekali mandi ceciblon di sungai tersebut.
Singkatnya saya bergabung dengan mereka.

Tanpa ragu-ragu saya menanggalkan satu demi satu baju dan celana hingga benar-benar berada pada suasana telanjang bulat (oppss, jangan berpikir mesum ya temans). Seperti teman-teman lainnya setelah baju dirapikan dan ditaruh dipinggir sungai yang dirasa aman beserta dua buah ceret disampingnya, maka langkah berikutnya adalah menceburkan diri diair sungai yang mengalir tersebut. Bercanda bersama banyak teman disana sungguh tak terasa telah memakan waktu yang cukup lama.

Hingga tiba saatnya sesosok perempuan yang sangat saya kenal menghampiri sepasang ceret lalu membawanya, baju serta celana yang saya kenakan pun tak luput turut serta digondholnya.
Pada saat itu saya tak begitu menyadari karena sedari melihat sosok perempuan yang tak lain adalah Simbok saya itu justru saya berusaha ngumpet dengan cara nyingklem atau menenggelamkan diri ke dalam air dengan cara semacam menyelam dalam waktu yang cukup lama.
Saya baru sadar karena begitu keluar dan menongolkan diri dari persembunyian tersebut salah satu teman berteriak "eh kae kathokmu digondhol simbokmu lhoo...!" Wowww... dengan tanpa berpikir panjang kali lebar sama dengan luas saya langsung mengambil langkah seribu meneriaki Simbok yang telah berlalu dari pandangan saya. Sambil teriak minta tolong dan terisak suara tangis, saya lari terbirit-birit di setiap jalan pulang yang terlewati dengan tampilan benar-benar telanjang bulat bukan karena menjadi pasien rumah sakit jiwa.
Temen-temen tercintaku semua silahkan kalau mau membayangkannya yaa..! (nyengir...)

***
Sore hari bakda Sholat Isya', sepulang dari pergi mengaji saya menemukan hidangan yang lumayan istimewa karena bagi kami hidangan ini adalah lain dari hari biasanya. Ada nasi tumpeng, telur dadar yang di iris-iris, gudangan (urap), semangkuk sayur kluwih, jajan pasar berujud buah pisang, kacang tanah rebus, dan ada yang lain lagi.

Namun ada satu pasangan makanan dan minuman yang bakal diceritakan oleh Simbok malam itu, yaitu tujuh nampan bubur (jenang) berjenis jenang abang, jenang putih, dua nampan jenang palang, jenang baro-baro (jenang putih yang ditaburi parutan kelapa dan irisan gula jawa), satu cawan berisi separoh jenang abang dan separoh jenang putih, serta satu cawan lagi adalah jenang putih yang juga diselingi sedikit jenang abang.
Sebagai penyanding dan pasangannya ada juga segelas air kopi, air teh dan tak lupa satu gelas air putih yang didalamnya ditaruh selembar daun dadap sirep.

Banyak wejangan dari beberapa simbul makanan yang tresedia itu, mengenai jenang mungkin hanya akan saya singgung sedikit saja, bahwa keberadaan tujuh macam jenang itu dikiaskan sehubungan saat itu adalah hari neptu (lahir) saya, maka sebagai seorang manusia yang terlahir berujud bayi ternyata menurut pemahaman kami orang Jawa ini lahirnya kami ada dan ditemani oleh tujuh saudara, atau ada yang menamakan ini sebagai sedulur papat lima pancer.

Jika teman-teman tercintaku semuanya melihat ini adalah perbuatan musyrik ya silahkan saja, hanya saja saya pribadi berpendapat dan berpikir bahwa orang jaman dulu sebagai awal pencipta karsa akan budaya (tumpengan) ini sungguh tak ada niatan menduakan Tuhan. Semua dilakukan memanglah dalam rangka persembahan, namun bukan berarti itu dipersembahkan sebagai pesaing Tuhan. Lebih dari itu saya berpikir bahwa semuanya ya dipersembahkan buat kami yang masih doyan makan dan minum ini. Toh nyata adanya bahwa pada akhirnya semua hidangan itu habis ludhes kami lalap.

Tentang keberadaan air baik berujud air kopi, air teh, maupun sekedar air putih, semuanya mengandung banyak perlambang dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mungkin kita akan berpikir simple tatkala melihat segelas air teh ataupun air kopi, yaitu sebagai bahan yang musti kita minum, sekedar lari keperut.
Namun semoga kita tak berhenti berpikir hanya sampai disitu terutama saat kita memaknai hakikat keberadaan segelas air putih dengan daun dadap sirep diatas.

Sudah kerapkali kita dengarkan sebuah pernyataan bahwa 'air adalah sumber penghidupan', sungguh benar pernyataan itu adanya. Namun pernahkan kita memikirkan secara nyata manfaat air itu bagi kehidupan ini...? Jawabannya saya yaqin bahwa ternyata sangat sedikit sekali kita bisa mensyukuri keberadaan sebuat Zat Tuhan yang bernama air.
Sehari tanpa air bisa menimbulkan kematian dengan diawalinya dehidrasi. Pun sehari tanpa air bakal membuat pusing pedagang air kemasan dalam botol (aqua). Bahkan orang-orang pintar juga telah lupa diri memikirkan keberadaan air dinegeri yang (katanya) berlimpah ini, terbukti tatkala mereka-mereka ini hanya memikirkan untung berbasis profit margin semata tanpa melihat sisi buruk terhadap keadaan alam yang ditimbulkannya. Pembalakan liar marak, penambangan tak beraturan, pun pembuangan sampah dari rumah-tumah gedong menuju selokan sangat mudah kita jumpai di negeri ini.. .
secara kimiawi air dibentuk oleh unsur-unsur api. Hidrogen itu api, oksigen adalah yang memungkinkan api terjadi. Namun kendati unsurnya api, begitu diolah rapi ia menjadi lembut, sejuk dan halus. Ini memberi pelajaran, kehidupan kita boleh penuh api (nafsu amarah, dengki, iri), namun belajarlah mengolahnya agar jadi lembut, sejuk dan halus. Dan puncak kelembutan dan kehalusan ketemu ketika mengerti dalam-dalam hakekat nyepi dan shanti (ketentraman dalam keheningan).

I gde Prama

Senada dengan yang diucapkan I Gde Prama mengenai air yang terdiri dari dua unsur (H2O) yaitu Hidrogen dan Oksigen tersebut. Meski Simbok saya bukan orang pinter dan terpelajar, telah jauh hari beliau sempat menggambarkan keberadaan air putih berisi daun dadap sirep dalam gelas tersebut.
Bahwa hidup kita ini tak bisa jauh dari keberadaan air, banyak hal yang bisa kita ambil inti-sari dari sana. Hati kita ini bakalan bisa menjadi bersih, jernih, tak berasa, dan tak membedakan warna namun mampu memberi nikmat yang dahaga tatkala mampu kita mengelolanya dengan baik. Mampu men-sirep keberadaan amarah pada diri pada saat komposisinya kita tepati.
Mula sira ndang elinga marang tirta mungguh ludira nguwasani aning jiwa
Maka segera sadar(kanlah) dengan (pada) air pada saat darah (kotor) ini memonopoli jiwa

Saran seorang simbok kepadaku adalah bersegera mengambil air (Wudhu) tatkala hati kita mulai dikuasai emosi yang hanya bakal mencengkram diri. Selain mampu mendinginkan suasana otak dan hati pada tubuh ini makna dari air sungguh kaya akan pedoman hidup yang kita lalui.
Ora ana banyu mili mandhuwur
Tak ada air mengalir keatas
Meskipun kita melihat air mancur mengalirnya keatas, namun toh pada akhirnya bakalan turun menuju bawah juga. Itulah peradaban yang sungguh manusiawi sekali. Rendah diri sudah semestinya kita jalani jika kita mengingat keberadaan air yang mengalir ini. Mengalir bersama sampah pun tak menjadi kendala dalam menjalani perputaran roda menuju samudera cintaNYA.

Selain diharap agar ketiga anak-anaknya berperilaku memaknai air, maka sebagai pesan atas wejangan dan wewaler simbok sebelum tidur malamku waktu itu, beliaupun menghadiahkan sebuah tembang dolanan karya Sunan Kalijaga yang kalmat terakhir berbunyi "kanggo sebo mengko sore mumpung jembar segarane mumpung padhang rembulane yoooo surak'o, surak horeee...!" [uth]


____________________________________________________________________________
Tulisan ini saya ikutkan sebagai peserta lombanya CAM VINA yang selama kurun waktu lima tahun menulis di media ngeblog (ngebual, ngejournal, ngegombal) baru pertama kali ini menjadi peserta lomba. Sekaligus sebagai wujud perbuatan nyata (meskipun masih didunia maya) dalam rangka merayakan Blog Action Day hari ini 15 Oktober 2010 dan kebetulan bertema AIR...!

read more >>

Saturday, August 7, 2010

ketan, kolak, dan apem serta padusan sebagai isi paket jelang puasa

Tinggal beberapa hari lagi kita semua akan meninggalkan bulan Ruwah, yaitu bulan yang boleh dibilang tepat sekali digunakan sebagai waktu untuk mengirim do'a atau sekedar menyambangi para arwah leluhur yang telah pergi mendahului kita.

Jika mengingat bulan Ruwah ini maka yang pertama menjadi kesan adalah mengenai kegiatan nyekar (tabur bunga) dan juga nyadran. Karena pada journal sebelumnya saya telah mencoretkannya, maka tulisan disini tak akan membahas lagi hal yang sama.
Saya hanya akan mengulas kembali mengenai uba-rampe (sarana) yang diperlukan sebagai pelengkap pada tradisi nyadran tersebut.

Sebagai uba-rampe pada acara genduren/kenduri memang ada beberapa makanan yang hukum (adat)nya bersifat mengikat dan musti disediakan. Dan kebanyakan dari yang bersifat "harus ada" itu adalah makanan yang memiliki simbol-simbol tertentu. Sebagaimana yang musti ada pada tradisi nyadran adalah uba-rampe makanan yang berujud ketan, kolak, dan apem.

  • Menggunakan makanan berujud ketan karena jika kita tilik namanya, ketan itu bisa didefinisikan sebagai penyebutan lidah Jawa pada kata khotan (bahasa Arab) yang berarti kesalahan. Dari arti kesalahan inilah dituntutnya kita supaya selalu menginganya yang ternyata perbuatan salah itu adalah berawal dari diri sendiri, dan dari sini selanjutnya diharapkan bisa selalu mengkoreksinya, tentu berawal dari diri pula, bukan dari orang lain.
  • Sementara kolak mengandung maksud pada kata kholaqo yang memiliki arti 'mencipta'. ari kholaqo tersebut tercipta sebuah kata Kholiq, ataupun Khaliq. Ini artinya bersamaan dengan bulan Ruwah ini diharapkan kita bisa semakin mendekatkan diri kepadaNYA yaitu untuk mendoakan para leluhur tersebut, dan juga doa itu menuntut untuk diteruskan pula pada bulan-bulan berikutnya, baik Puasa, Lebaran dan bulan-bulan setelahnya.
  • Tak boleh ketinggalan adalah makanan bernama apem. Apem asal kata dari Afwam atau Afuan yang berarti permintaan maaf. Dapat dijelaskan bahwa pada bulan ini hendaknya kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang sifatnya pemaaf dan bisa memaafkan orang lain.
Selain itu hal yang sepertinya menjadi paket dari bulan Ruwah adalah tradisi Padusan.
Puasa Ramadan yang bakalan dilakukan selama sebulan penuh adalah wajib hukumnya bagi yang memiliki syarat Iman terhadap Islam (Al Baqarah 183). Laku Puasa tersebut oleh orang-orang tua dahulu juga dimaknai sebagai laku (perbuatan) prihatin.
Sementara syarat yang diberlakukan bagi orang-orang yang mau mengerjakan tindakan atau lelaku Prihatin pada waktu itu adalah melakukan laku adus banyu suci perwitasari. Laku adus banyu suci perwitasari adalah satu tindakan mandi (Jawa:adus) menggunakan sari-sari air yang sudah disucikan dengan do'a. Tujuan laku mandi tersebut tak lain adalah untuk membersihkan tubuh sebelum melakukan pembersihan batin dengan cara laku prihatin.

Karena Puasa Ramadan yang akan dilalui selama sebulan penuh itu juga dianggap sebagai laku prihatin maka persiapannya pun musti dilakukan dengan cara padusan juga. Padusan ini biasanya dilakukan pada satu atau dua hari menjelang hari pertama bulan Puasa, dan tempat yang digunakan sebagai sarana pemandian umum itu bisa di sendang, di sungai, atau di mbelik (semacam sumur kecil yang memiliki sumber air jernih).
Di tempat yang bersifat umum inilah di lakukan semacam ikrar dengan dipimpin oleh orang yang dipercaya sebagai sesepuh pada suatu kampung, isi ikrar tersebut adalah memantabkan hati untuk mengucapkan niat menjalankan laku prihatin berujud Puasa dengan menyertakan diri pada acara padusan sebagai sarana mandi sebagai maksud untuk membersihkan tubuh agar terbuang semua kotoran yang melekat di raga syukur-syukur dijiwa ini.

Pada acara paket baik nyadran, nyekar ataupun padusan ini hal yang mampu dimaknai adalah terjadinya satu bentuk kebersamaan. Tak peduli apa yang menjadi keyaqinan yang dianut, namun saat-saat seperti itu semua bisa berbaur menjadi satu melakukan kerjasama serta tindakannya pun seirama tanpa ada satu pengkotakan yang hanya dibedakan menurut kulit luar manusia saja.

Tradisi yang sungguh (menurut saya) sangat bisa memberi inspirasi kepada setiap umatNYA. Disinilah tercipta satu kesejatian bahwa kita manusia ini tercipta sama sebagai Makhluk didepan mata Tuhan, tak ada satu sisi pun dari kita ini bisa disombongkan didepan manusia lain. [uth]

ilustrasi: ketan kolak apem
tak semua pertanyaan butuh jawaban

read more >>

Sunday, February 7, 2010

Berpikir Jernih dalam Situasi Remang-Remang

SAYA berangkat ke Surabaya Jumat pekan lalu dengan dengkul cedera dan pikiran risau. Jawa Pos meminta saya bicara hari Sabtu pagi dalam forum temu penulis opini dan, sejak menerima undangan, saya sudah beberapa hari gelisah memikirkan apa hal terbaik yang bisa saya sampaikan kepada para peserta forum. Kegelisahan saya bertambah lagi ketika memikirkan apa pesan yang nantinya bisa diingat oleh para undangan setelah acara selesai dan masing-masing dari kami pulang ke rumah.

Kerisauan semacam ini benar-benar membuat saya tidak bisa menikmati perjalanan, tetapi sekaligus membuat saya lupa bahwa dengkul saya sebenarnya sangat nyeri ketika itu. Cedera tersebut saya dapatkan sehari sebelum saya berangkat ke Surabaya dari Jakarta dan karena itu saya harus menopang diri dengan kruk. Akhirnya, dengan tetap risau, saya menyelesaikan acara hari Sabtu itu --yang terasa pendek karena berlangsung menyenangkan. Dan saya hanya bisa menyampaikan pesan bahwa menulis adalah latihan paling tepat untuk mengasah pikiran.

Di hari Minggu keesokan paginya Lan Fang, kawan baik saya dan penulis yang sangat produktif, mengirimkan pesan singkat. Bunyinya: ''Aku melihat fotomu dengan kruk di Jawa Pos hari ini.'' Saya menjawab: ''Apakah terlihat mengharukan dan penyakitan?'' Dia membalas: ''Tidak. Kau terlihat berwibawa dan karismatis.''

Saya harus berterima kasih kepada kawan saya itu. Dengkul saya rasanya akan cepat sembuh begitu membaca pesan singkatnya.

Tentang menulis sebagai latihan paling tepat untuk mengasah pikiran, saya kira ini hal yang tidak banyak diurus oleh kurikulum pendidikan kita. Saya menduga karena para pembuat kebijakan di bidang pendidikan masih belum melihat perlunya memberikan keterampilan menulis kepada para siswa sekolah. Padahal, Anda tahu, ketika Anda menulis maka pada saat itu Anda mengerahkan seluruh kerja pikiran: mengingat, berlogika, menganalisis, menerapkan pengetahuan yang telah Anda pelajari, menyusun alasan, dan sebagainya.

Ketika menulis Anda menuntut diri Anda menggunakan bahasa dengan baik. Dan, bukankah kita menyampaikan isi pikiran dengan bahasa, dengan kata-kata? Agaknya dari sanalah muncul pepatah yang menyatakan bahwa kata lebih tajam dari pedang. Dan itu merupakan pengakuan bahwa ketajaman pedang tak akan pernah bisa mengalahkan ketajaman pikiran. Maka, saya selalu senang mengingatkan: menulislah agar pikiran Anda (sesuatu yang lebih tajam dari pedang) bisa menjadi kian tajam.

Anda bisa mengasah ketajaman pikiran dengan menuliskan tema apa saja yang Anda sukai. Jika Anda menyukai tema-tema politik, Anda beruntung karena setiap hari tersedia bahan berlimpah ruah untuk Anda bedah. Misalnya, apa kira-kira keputusan Pansus Century? Benarkah keputusannya akan baik-baik saja setelah kasus ini merongrong pikiran dan menguras perhatian publik sekian lama? Kompromi apa yang akan terjadi antara Presiden SBY dan Pansus Century dan partai-partai pendukung koalisi? Apakah Aburizal Bakrie akan rela Sri Mulyani tetap menjadi menteri keuangan setelah perseteruan di antara mereka dibuka oleh media massa?

Jadi, apakah Anda menduga Sri Mulyani akan dikorbankan? Saya kira itu sangat memungkinkan mengingat Sri Mulyani adalah sosok yang paling aman secara politis untuk dijadikan korban. Ia bukan politisi partai mana pun, karena itu tak akan ada guncangan politik jika ia diturunkan. Bukankah tema ini cukup menarik sebagai latihan berpikir dan berspekulasi?

Jika Anda menyukai tema-tema korupsi, Anda juga tak akan pernah kehabisan materi latihan mengasah pikiran --contoh kasusnya bertebaran di negeri ini. Ketika banyak kasus korupsi belum ketahuan akan berakhir seperti apa, belakangan kita disuguhi lagi berita tentang bekas Menteri Sosial Bachtiar Chamzah yang dijadikan tersangka oleh KPK karena negara dirugikan Rp 27,8 miliar dalam pengadaan mesin jahit dan impor sapi fiktif. Modusnya mudah ditebak: penunjukan langsung dan penggelembungan nilai proyek.

Dalam kasus ini Bachtiar menyebut-nyebut nama Amrun Daulay, bekas Sekjen Bantuan dan Jaminan Sosial Depsos, sebagai orang yang mengusulkan proyek tersebut dan bekerja sama dengan rekanan yang ditunjuk langsung. Sekarang si Amrun menjadi wakil rakyat dari Fraksi Demokrat dan Anda boleh percaya boleh tidak apakah dia benar-benar mewakili rakyat. Dalam pemeriksaan itu, Bachtiar menyatakan bahwa tak ada keterlibatan Sigid Haryo Wibisono, mantan staf ahlinya, dalam urusan ini. ''Sigid hanya mengurus masalah konflik di Aceh,'' kata Bachtiar.

Lihatlah, urusan sapi dan mesin jahit pun bisa berkelok-kelok dan mungkin bisa menguak praktik-praktik politik yang tak terduga. Ada politisi Demokrat di sana. Ada Sigid Haryo Wibisono, salah seorang terdakwa dalam sidang pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, yang baru kita ketahui bahwa ternyata dia adalah staf ahli menteri sosial. Dan apakah kira-kira urusan orang ini dalam konflik Aceh? Apakah dia memang ahli konflik, yang bekerja dengan caranya sendiri, dalam berbagai perseteruan? Dia ada dalam kasus Antasari vs Nasruddin; dia juga ada dalam pusaran konflik di tubuh PKB? Kenapa orang ini seperti ada di mana-mana?

Dan ada berapa banyak orang seperti Sigid di republik ini? Saya akan berterima kasih seandainya Biro Pusat Statistik bisa memberikan angkanya. Tetapi saya tahu itu pengandaian yang muskil, sebab BPS tentu saja tidak melakukan pendataan untuk mencari tahu berapa jumlah orang seperti Sigid di negara ini.

Jika Anda punya kepedulian terhadap nasib orang-orang jelata, materi untuk mengasah pikiran juga berlimpah ruah. Anda bisa melihatnya dari sudut pandang kegagalan negara dalam menjalankan amanah konstitusi untuk memelihara orang miskin dan anak telantar. Ini klise?

Kalau begitu coba Anda melihat bagaimana orang-orang melarat menyelamatkan perekonomian di saat para pengusaha kakap dan pejabat publik yang korup tak henti-henti merongsong keuangan dan perekonomian negara. Pemerintah, Anda tahu, senang membuat klaim tentang pertumbuhan ekonomi tanpa mau berterima kasih bahwa itu semua berkat orang-orang melarat yang bergerak di sektor informal, yang nyaris tanpa campur tangan pemerintah sama sekali.

Anda tahu, setiap orang harus melakukan apa saja untuk mempertahankan hidup. Pasar kaget ada di mana-mana dan pedagang kaki lima tumbuh subur. Mereka harus berkeliling menggelar dagangan mereka --apa saja yang bisa mereka dagangkan. Jadi, saya yakin bahwa negara ini tak akan hancur karena rakyatnya cukup punya daya tahan. Yang saya sesali: sekiranya pemerintahan berfungsi beres, tentu amat mudah bagi kita untuk mencapai kesejahteraan yang berlipat-lipat dibanding sekarang.

Selanjutnya, jika Anda berminat pada tema-tema bahasa, saya kira ada satu hal yang sangat menarik untuk dikaji, yakni bahasa para pejabat publik dan politisi kita. Mereka sungguh penyebar polusi tingkat tinggi dalam bahasa dan pikiran kita. Saya yakin, sebagaimana manuver politik mereka yang bersilang susup di bawah permukaan, bahasa para politisi dan pejabat publik kita pun mewakili keremang-remangan yang coba disembunyikan rapat-rapat.

Anda akan mendapatkan bahan yang tak habis-habisnya jika punya kesediaan untuk membedah bahasa mereka. Saya sangat yakin bahwa struktur permukaan bahasa mereka hanyalah puncak gunung es yang menyembunyikan banyak hal besar di bawah permukaan. Saran saya, galilah apa yang terpendam di bawah permukaan. [jawapos]
~~maztrie~~
Creative Commons License
read more >>
 

Copyright © 2011 | Maztrie™ MirrorPot | Ubet Ngliwet, Ngglibet Nglamet | by ikanmasteri