Friday, October 31, 2008

(Pasar) Sangkan Paraning Dumadi

Saktemene Ingsun Ciptak'ke Manungsa iku Saka Lemah, Mula yen wus Ingsun sampurnak'ke Kedadeane lan tak sebulke Roh (Gawean) KU, Mula Sira padha Sujuda Marang Kang Gawe Urip. (As Shaad :71-72)

Perjalanan hidup kita dapat diibaratkan seperti pergi ke pasar. Pasar adalah tempat ramai dimana banyak orang berkumpul disana beserta bermacam-macam barang dagangannya. Kata "Pasar" dapat didefinisikan sebagai 'Papan Panggonane Manungsa kang Kesasar' (tempat bertandangnya manusia yang kesasar), Karena dipasar dapat kita temukan beraneka warna kehidupan ini. Ada yang berjualan dengan menggunakan kata hati 'kejujuran', tapi tidak sedikit pedagang yang suka bohong. Ada pembeli yang jujur, namun banyak pula diantara mereka yang curang, suka mencuri dan ngibul.
Pasar adalah tempat dilakukannya segala sesuatu, baik yang bersifat terpuji ataupun tercela. Dipasar sering juga kita jumpai pencuri ataupun pencopet. Bahkan disana acapkali kita jumpai manusia yang menjual barang-barang yang sudah nggak layak di konsumsi lagi, yang penting bisa mengambil keuntungan, sudah nggak peduli lagi tentang hukum Haram dan Halal. Masih ingat kan kita tentang daging tikus, daging babi, daging sampah restaurant, Krecek kulit sepatu ataupun Daging sapi glonggongan....... Belum lagi ditambah dengan beraneka bahan pengawet mayat seperti borak ataupun formalin. Itu semua adanya dipasar. Maka sudah seharusnya kita berhati-hati bila berada disana, jangan sampai salah membeli dan salah memilih. Tak ubahnya hidup didunia ini, harus mengutamakan sikap dan sifat hati-hati dalam menjalani, melakoni, dan memilihnya. Tentang keyakinan mana yang baik, dan kepercayaan mana yang benar memang wajib kita lakoni meski mahal harganya. Tetapi dengan kadar mahalnya itu, semoga yang akan kita petik nantinya adalah Gizi dari buah SurgaNYA.
Urip iku, neng ndonya tan lami
Umpama jebeng menyang pasar, tan langgeng neng pasar wae
Tan wurung nuli mantuk, mring wismane sangkane uni
Dandanggula Babat Demak - 1
Hidup itu didunia tidak lama, sebagaimana anda pergi kepasar. Tidak untuk kekal selamanya kita hidup didunia ini, karena sudah menjadi kepastian bahwa nantinya kita akan mati, kembali keasal. Pulang ke Rahmatullah.

Inilah philosophi antara "Pasar" dan "Sangkan Paraning Dumadi".
Sebelum terlahir didunia ini kita berasal dari alam langgeng. Disebut langgeng karena memang tak ada ruang dan waktu. Kekal adanya. Dan selanjutnya nanti kita juga akan kembali ke alam langgeng lagi.
Raga (badani) ini hanyalah pakaian dari Rohani (Jiwa). Bila raga telah tak berfungsi alias mati, maka Rohani akan melepas raga kembali ke asalnya. Yaitu "Alam Langgeng". Karena Roh itu langgeng adanya, tidak bisa mati, dan 'ia' berasal dari alam langgeng.
Alam dapat dibedakan kedalam dua bagian, yaitu "Alam Ghaib" dan "Alam Nyata". Dimana ghaib adalah karena tidak nampak dan tak dapat disentuh oleh Pancaindera. Alam ghaib ini kekal adanya, tak berruang dan tak mengenal waktu. Sedang alam nyata telah terlihat jelas dihadapan kita, tersentuh oleh panca indera dan menempati ruang serta waktu. Meski meliputi semesta yang sangat luas ini, tetapi tetaplah kesemuanya itu ada batasnya karena selalu berubah.
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah", Maka apabila telah aku sempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya Roh (Ciptaanku), maka hendaklah kamu tersungkurdengan Sujud kepadaNya
(Surat Shaad : 71-72)
Karena makanan kita berasal dari hasil tanah, sewajarnya kalau kita semua selalu percaya bahwa memang badan kita ini asalnya juga dari tanah.

Sehingga mati pun raga kita ini akan kembali terkubur tanah, terkecuali Roh kita yang takan pernah bisa mati. Dia akan kembali lagi ke asalnya Roh, yaitu alamnya roh, alam langgeng, atau alam ghaib. Karena Roh adalah ghaib adanya.
Sebab itulah kita di ingatkan, karena tak bakalan selamanya kita berada dipasar. Suatu saat pasti pulang kembali kerumah kita dengan membawa bekal dari hasil belanjaan kita dari pasar tersebut tentunya. Dan belanjaan kita adalah amalan-amalan perbuatan kita selama berada di dunia ini.
Ing mengko ojo samar sangkan paranipun
Ing mengko padha weruh yen asale sangkan paran duk ing uni
Aja nganti kesasar
Dandanggula Babat Demak - 2
Apabila dalam perjalanan kepasar kita terpengaruh seseorang dan mau diajak pergi, ada banyak kemungkinan kita bakalan kesasar untuk kembali pulang kerumah. Atau jika sering melamun dan tak mau teringat asal muasal, itu semua bisa membuat kita semua lupa diri. Bila tersesat, celakalah kita.
Yen kongsiha kesasar jroning pati, dadiyo tiwas urip kesasar
Tanpa pencok'an sukmane saparan-paran nglangut
Kadya mega katut ing angin wekasan dadi udan
Mulih marang banyu, dadi bali nuting wadag
Ing wajibe sukma tan kena ing pati, langgeng donya akherat
Dandanggula Babat Demak - 3

Akan halnya dengan hidup ini, akan tersesat nantinya apabila tidak hati-hati. Kelak kalau datang kematian menghampiri kita, Roh kita bakalan tersesat, hingga menjadi Roh yang gentayangan. Jangan kan menuju surga sedang untuk kembali pulang saja sudah kesasar. Maka hendaknya kita mengerti akan asal sangkan paran kita sebagai manusia CiptaanNYA. Selalu ada tempat berpegangan bagi Sukma kita ini. "Pencok'an Sukmanira". Tetap kembali bertobat dan mengingat asal sangkan paraning dumadi. Orang yang mau bertobat kembali ke ajaranNYa, selalu mensyukuri semua karunia yang telah di berikan olehNYA, dan mau melaksanakan perintah serta bersedia meninggalkan laranganNYA semua itu akan terbayar oleh jaminan SurgaNYA dan terhindar dari kobaran api nerakaNYA. Semoga kita semua mampu menempuh perjalanan pulang dari "Pasar Dunia" ini dan sampai dengan lancar tanpa ada kata tersesat, karena telah dibekali oleh-oleh berupa Roti Taubat, Kue Rukun Islam dan Rukun Iman, Buah Dzikir, Permen Pantang Munkar, dan Sirup Al QUr'an dan Al Hadist. Sehingga yang berada dalam rumah batin kita akan merasa senang dan menyambutnya dengan hati gembira. Bukan membawa muka lebam dan penuh luka lantaran dihajar massa karena mencopet, atau mencuri.
Malam Pasar Ria - M. Said

read more >>

Thursday, October 23, 2008

when the blossoms vanish, the fruits appear

Sing sapa dituduhake dening Allah, kamangka hiya dhewek'e oku kang oleh pituduh. Dene sapa disasarake, ora pisan-pisan sira bisa oleh panulung kang aweh pituduh. (QS. Al - Kahfi : 17) Foto diatas adalah gambar dari bunga Kamboja (Semboja) yang awal bibit pohonnya diambil kakak saya dari satu kuburan dikampung. Awalnya yang saya tahu selama ini bahwa bunga kamboja hanya mempunyai satu warna seperti yang sering saya lihat, yaitu berwarna putih. Tetapi ternyata saya keliru. Terbukti dengan adanya bunga yang saya ambil pic nya itu yang kebetulan pas balik kampung kemarin sedang berbunga dengan warna seperti diatas. Apakah ini satu petunjuk buat saya..? Wu'allahu alam... Yang jelas karena awal mula pohon itu adalah berasal dari kuburan yang nantinya berfungsi sebagai tempat tubuh dan badan ini akan ditimbun tanah, maka dari itu mampu mengingatkan saya tentang hari kematian, layaknya bunga yang gugur dan jatuh tersungkur di tanah. ***Bunga... Pemandangan akan terasa lebih indah apabila ditambah dengan keberadaan bunga. Bunga juga dapat di fungsikan sebagai representasi dari senyuman senyuman kebahagiaan. Bunga mampu bersenandung mendendangkan lagu-lagu kehidupan yang berkelimpahan. Begitu pula bunga bisa menyentuh lewat bayangan penggambaran senyuman dari yang mempunyai Kehidupan ini. Dari kumpulan berbagai macam tanaman bunga dapat kita sebut sebagai "Taman Bunga". Taman bunga mampu memberi manfaat lebih dari sekedar 'Istana'. Apabila tubuh di ibaratkan istana yang berfungsi sebagai rumah dari daging manusia ini, maka "Taman Bunga" adalah 'Istana'nya hatiyang telah terbuka kepekaannya. Istana hati yang telah mampu menggemakan suara-suara mistis. Sehingga sungguh luar biasa apabila kita sebagai manusia telah mampu mengeluarkan air mata di tengah taman bunga. Bukan uraian kebahagiaan apalagi air mata kesedihan ataupun penyesalan. Tetapi semoga bisa menjadi uraian air mata kerinduan sukma yang telah terobarti guna bekal pulang menuju IstanaNYA.
Ya, Air Mata Bertanda Cahaya Dari Sang Pemilik Cahaya. Bunga berani mati untuk munculnya buah. dari sana semoga dapat kita cermati dan kita teladani akan pengorbanan harum aromanya bunga. Semoga kita masih ada kekuatan untuk mengorbankan keinginan duniayang penuh tipu ini dan sanggup menempatkan pikiran agar berfungsi sebagai 'Pembantu' tanpa keinginan setetespun untuk memiliki. Mungkin sudah saatnya bagi kita untuk lebih membudayakan gaya hidup sederhana dan memakan hal-hal yang amat seperlunya. Memberi harga diri sepantasnya. Hormat terhadap hidup ini. Hidup yang berjalan mestinya diiringi oleh 'Barisan Pasukan Syukur Ikhlas' When The Blossoms Vanish, The fruits appear, Tatkala bunga hilang, Buah nya pun muncul. Dan ketika bunga kehidupan ini mati, berharap buah kehidupan diakherat nanti tetap tercium harum baunya.
Aja nedya katempelan, Ing wewateg kang tan pantes ing budi, Wateg rusuh nora urus, tunggal lawan manungsa, Dipun sami karya labuhan kang patut, Darapon dadi tuladha, tinuta ing wuri-wuri Jangan lah mengharap mempunyai watak yang tidak luhur Watak jahat itu tidak pantas bersatu dengan manusia Berbuatlah kebajikan yang akhirnya bisa menjadi pelajaran Pelajaran yang berguna untuk kemudian hari Pangkur 13
=> Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Swt maka dia akan memperoleh Petunjuk, Dan barang siapa yang disesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk (QS. Al - Kahfi : 17)
read more >>

Monday, October 20, 2008

aqu, cinta, dan dunia

Dapatkah aku mencinta sedang yang kupunya hanyalah keikhlasan hati... Bukankah hakekat mencinta adalah memberi... Bagaimana aku bisa mencinta dan dicinta jika aku tak ada harta, tahta apalagi kuasa... Cukupkah yang kan kuberi pada orang yang kucinta hanya hati yang tlah rapuh ini... Yach, mungkin aku memang harus sadar diri untuk selalu menerima tentang 'tidak diterimanya' cintaku ini. Tetapi semoga cintaku pada Tuhan bisa diterima seperti ikhlasnya penerimaan cinta Ibu/Simbok'ku. Tanpa berharap pamrih beliau ikhlas memberi cinta dan merawat aku semenjak keluar dari rahimnya, bahkan mungkin cintanya tlah terlahir semenjak 9 bulan sebelum aku dilahirkan guna menghirup nafas udara dunia ini. Pernah ada kalanya kejujuran ini nggak banyak orang percaya. Sebaliknya, kebohongan malah banyak di terima. Namun akan tidak enak rasa apabila cinta harus dimulai dengan kebohongan dan kepura-pura an. Sebab kebohongan dan keberpuraan tak laim adalah barisan pasukan setan yang tak berujung. Sekali barisan kebohongan terdepan memainkan perannya, maka bakalan diikuti oleh barisan kebohongan berikutnya, Dan begitu pula barisan kebohongan selanjutnya -akan melakukan pementasan kebohongan yang sama juga- Sebagai pelipur lara diri...Menjadi terbiasa ditolak cinta oleh anak manusia mungkin akan lebih baik, walau pahit rasanya... Namun akan manis diujungnya karena disertai bumbu penyedap rasa bermerk "Kejujuran dan ketidakberpura-puraan" Nikmat cintaNYA nggak bakalan habis dan berkurang meski di konsumsi berjuta anak manusia. Semoga dengan rasa cinta yang masih tersisa, akan bisa memanfaatkan CintaNYA sebagai media guna meletakkan 'nilai kebesaran' manusia seperti aku ini. Dengan kerendahan hati (tawadhu') berharap cinta mampu campakkanku di hadapan keagungan Yang Maha Tinggi. Amiieeennn...

Aku - PAS Band

read more >>

Saturday, October 18, 2008

Jalma Manungsa

@. Idza Waqi'atul Waqi'ah, Laisa liwaq 'atiha Kadzibah => Jika telah masuk momentumNya, Maka tak ada yang kan sanggup mendustakan atau menolaknya @. hubbud dunya wa karohiyatul maut ==> Kemaruk dunia tak takut mati
Tlatah wus den pecak'i Lakon wus den tindak'i Ketiga kang ngenthang-enthang Udan kang gumebyur... Nora bakal Kabeh mau kapecak lan katindak Langit kang kemlawe, bakal tambah ngawe-awe... Mula kudu eling lan waspada Nadyan akeh owah-owahan Jalma manungsa amung dadi lakon banda lan Raga Kagunganipun Kang Kuasa Semono uga nyawa iki amung titipan... Jalma nora liya kejoba 'ngunjal mangsa' Manungsa, Mapaning namung Sadrema datan sira kumalungkung, Sapa sira sapa Ingsun... Jalma iku yo bakalan kaurugan Siti Mula padha mangertenono kareben datan ajrih mring dhawahing pati Sowan agung dhumateng Kang Muyrbeng Dumadi...
***
Kehidupan sudah berkembang, Kelakuan pun telah dijalani
Kemarau yang kering dan gersang, Hujan yang Deras penuh gemuruh petir Tidak bakalan semua itu terlampaui semua Langit yang tinggi di angkasa sebatas cakrawala makin mengundang dan melambai maka haruslah Ingat dan waspada walaupun terjadi banyak perubahan dan pancaroba Jelma manusia ini hanyalah sebagai aktor (Pemeran) Harta dan raga adalah milikNya Begitu juga nyawa hanyalah titipan Jelma ('Jalma') tidak lain hanyalah 'ngunjjal mangsa' (sesenggukan nafas penghidup waktu) Manusia ('Manungsa'), Mapaning Namung Sadrema (Tempatnya hanyalah Sekedar melakoni) janganlah tinggi hati, Sombong akan diri "siapa saya" Jelma ini bakal terkubur tanah, maka mengertilah... Agar jangan takut akan datangnya kematian Menghadap kepada Yang Mempunyai Hidup => Yen wus tumeka titi wancine, nora bakal manungsa bisa selak utawa nolak ==> Kemaruk banda donya lan nora wedi ing pati
Hong Wilaheng - Gombloh

read more >>

Wednesday, October 15, 2008

Lemper...

wujudmu dawa kadang yo bunder... dibungkus godhong kang pating klawer... mbasan dak bukak...?!
walah - alah isine dower.. dak ulu liwat gulu... - mak tleseeeerrrr - tekan puser.... - muter muteeeerrr - muyer- muyer nganti klenger... jalaran kesel, lemper banjur mlayu... mak sliweeeerrr...
Lemper... hasil karyane... wong lagi buyeeerrr...


read more >>

Happy aniversarry to 'Binangun' - 15 October

Kabupaten Kulon Progo, adalah sebuah kabupaten diwilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Ibukotanya adalah Wates. Kabupaten ini berbatasan denganKabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul disebelah timur, Samudera Hindia di selatan dan wilayah Purworejo di sebelah barat, sedangkan di utara adalah Magelang. Nama Kulon Progo berarti sebelah barat Sungai Progo (kata kulon dalam Bahasa Jawa artinya barat). Kali Progo membatasi kabupaten ini di sebelah timur.

Kabupaten Kulon Progo terdiri atas 12 kecamatan, yang dibagi lagi atas 88 desa dan kelurahan, serta 930 Pedukuhan (sebelum otonomi daerah dinamakan Dusun). Pusat pemerintahan di Kecamatan Wates, yang berada di jalur utama lintas selatan Pulau Jawa (Surabaya - Yogyakarta, Bandung) Wates juga dilintasi jalur Kereta api lintas selatan Jawa.

Kalo anda tahu Novelnya SH Mintardja (Pak Singgih) , maka akan tahu bahwa di bagian barat wilayah kabupaten ini berupa pegunungan Menoreh, dengan puncaknya Gunung Gajah (828 m), di perbatasan dengan Kabupaten Purworejo. Sedangkan di bagian selatan merupakan dataran rendah yang landai hingga ke pantai.


SEJARAH

Daerah yang saat ini termasuk wilayah Kabupaten Kulon Progo sebelumnya terbagi atas dua kabupaten, yaitu Kabupaten Kulon Progo yang merupakan wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kabupaten Adikarta yang merupakan wilayah Kadipaten Pakualaman. Kedua kabupaten ini akhirnya digabung menjadi Kabupaten Kulon Progo pada tanggal 15 Oktober 1951.

* Kabupaten Kulon Progo

Sebelum Perang Diponegoro di daerah Negaragung, termasuk di dalamnya wilayah Kulon Progo, belum ada pejabat pemerintahan yang menjabat di daerah sebagai penguasa. Pada waktu itu roda pemerintahan dijalankan oleh pepatih dalem yang berkedudukan di Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah Perang Diponegoro 1825-1830 di wilayah Kulon Progo sekarang yang masuk wilayah Kasultanan terbentuk empat kabupaten yaitu:

  • Kabupaten Pengasih, tahun 1831
  • Kabupaten Sentolo, tahun 1831
  • Kabupaten Nanggulan, tahun 1851
  • Kabupaten Kalibawang, tahun 1855

Masing-masing kabupaten tersebut dipimpin oleh seorang tumenggung. Menurut buku Prodjo Kejawen pada tahun 1912, Kabupaten Pengasih, Sentolo, Nanggulan dan Kalibawang digabung menjadi satu dan diberi nama Kabupaten Kulon Progo, dengan ibukota di Pengasih. Bupati pertama dijabat oleh Raden Tumenggung Poerbowinoto.

Dalam perjalanannya, sejak 16 Februari 1927 Kabupaten Kulon Progo dibagi atas dua kawedanan dengan delapan kapanewon, sedangkan ibukotanya dipindahkan ke Sentolo. Dua kawedanan tersebut adalah Kawedanan Pengasih yang meliputi Kapanewon Lendah, Sentolo, Pengasih dan Kokap/Sermo. Kawedanan Nanggulan meliputi Kapanewon Watumurah/Girimulyo, Kalibawang dan Samigaluh.

Berikut adalah daftar Bupati Kulon Progo sampai dengan tahun 1951 adalah sebagai berikut:

  1. RT. Poerbowinoto
  2. KRT. Notoprajarto
  3. KRT. Harjodiningrat
  4. KRT. Djojodiningrat
  5. KRT. Pringgodiningrat
  6. KRT. Setjodiningrat
  7. KRT. Poerwoningrat

* Kabupaten Adikarta

Di daerah selatan Kulon Progo ada suatu wilayah yang masuk Keprajan Kejawen yang bernama Karang Kemuning yang selanjutnya dikenal dengan nama Kabupaten Adikarto. Menurut buku Vorstenlanden disebutkan bahwa pada tahun 1813, Pangeran Notokusumo diangkat menjadi KGPA Ario Paku Alam I dan mendapat palungguh di sebelah barat Kali Progo sepanjang pantai selatan yang dikenal dengan nama Pasir Urut Sewu. Oleh karena tanah pelungguh itu letaknya berpencaran, maka sentono ndalem Paku Alam yang bernama Kyai Kawirejo I menasehatkan agar tanah pelungguh tersebut disatukan letaknya. Dengan satukannya pelungguh tersebut, maka menjadi satu daerah kesatuan yang setingkat kabupaten. Daerah ini kemudian diberi nama Kabupaten Karang Kemuning dengan ibukota Brosot.

Sebagai Bupati yang pertama adalah Tumenggung Sosrodigdoyo. Bupati kedua, R. Rio Wasadirdjo, mendapat perintah dari KGPAA Paku Alam V agar mengusahakan pengeringan Rawa di Karang Kemuning. Rawa-rawa yang dikeringkan itu kemudian dijadikan tanah persawahan yang Adi (Linuwih) dan Karta (Subur) atau daerah yang sangat subur. Oleh karena itu, maka Sri Paduka Paku Alam V lalu berkenan menggantikan nama Karang Kemuning menjadi Adikarta pada tahun 1877 yang beribukota di Bendungan. Kemudian pada tahun 1903 bukotanya dipindahkan ke Wates. Kabupaten Adikarta terdiri dua kawedanan (distrik) yaitu kawedanan Sogan dan kawedanan Galur. Kawedanan Sogan meliputi kapanewon (onder distrik) Wates dan Temon, sedangkan Kawedanan Galur meliputi kapanewon Brosot dan Panjatan.

Bupati di Kabupaten Adikarta sampai dengan tahun 1951 berturut-turut sebagai berikut:

  1. Tumenggung Sosrodigdoyo
  2. R. Rio Wasadirdjo
  3. R.T. Surotani
  4. R.M.T. Djayengirawan
  5. R.M.T. Notosubroto
  6. K.R.M.T. Suryaningrat
  7. Mr. K.R.T. Brotodiningrat
  8. K.R.T. Suryaningrat (Sungkono)

PENGGABUNGAN DUA WILAYAH KABUPATEN Pada tanggal 5 September 1945, Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII

mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa Kasultanan dan Pakualaman adalah daerah yang bersifat kerajaan dan daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia.

Pada tahun 1951, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII memikirkan perlunya penggabungan antara wilayah Kasultanan yaitu Kabupaten Kulon Progo dengan wilayah Pakualaman yaitu Kabupaten Adikarto. Atas dasar kesepakatan kedua penguasa tersebut, selanjutnya dikeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1951 yang ditetapkan tanggal 12 Oktober 1951 dan diundangkan tanggal 15 Oktober 1951. Undang-undang ini mengatur tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 untuk Penggabungan Daerah Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarto dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi satu kabupaten dengan nama Kulon Progo yang selanjutnya berhak mengatur dan mengurus rumah-tanganya sendiri. Undang-undang tersebut mulai berlaku mulai tanggal 15 Oktober 1951. Secara yuridis formal Hari Jadi Kabupaten Kulon Progo adalah 15 Oktober 1951, yaitu saat diberlakukannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1951 oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia.

Source: WikipediaDotCom

Ngajokjakarta - Genk Cobra

read more >>

Monday, October 13, 2008

Tembang Ilir-ilir

lir ilir -
Lir-ilir, Lir-ilir, Tandure wus sumilir, Tak ijo royo-royo, Tak sengguh penganten anyar Cah angon - cah angon, Peneken blimbing kuwi, Lunyu-lunyu yo penek'en, Kanggo mbasuh dodotira
Dodotira - dodotira Kumitir bedahing pinggir, Dondomono, Jlumatono Kanggo seba mengko sore Mumpung jembar kalangane, Mumpung padhang rembulane Yo surak'o surak hore....

Walaupun hanya bersifat tembang 'dolanan', Tembang "Lir - ilir" secara global tiap bait menurut pandangan Islam dapat di jabarkan sebagai:
  • Bait Pertama, mulai bangkitnya umat Islam
  • Bait Kedua, Merupakan perintah untuk melaksanakan Rukun Islam
  • Bait Ketiga, Bertobat - memperbaiki kesalahan - kesalahan yang pernah dilakukan. Sebagai bekal kelak saat menghadapi kematian
  • Bait Keempat, mempunyai arti "mumpung" masih ada kesempatan
A. ILIR - ILIR TANDURE WIS SUMILIR Berasal dari kata "nglilir" yang berarti terjaga dari tidur (belum tersadar). Bisa di definisikan adalah orang yang belum beriman (Islam). Pada tembang tersebut kata Ilir - ilir terjadi pengulangan dua kali, maksudnya adalah seruan "Bangun - Bangun" menuju arah pemikiran baru... "Tandure wus sumilir" artinya benih yang ditanam telah tumbuh. maksudnya adalah benih iman. Manusia terlahir dimuka bumi ini sadar ataupun tidak, telah di beri karunia berupa Iman dari yang maha kuasa. Bila tersadarkan oleh hal tersebut dan mau merawatnya, maka niscaya akan tumbuh subur dalam kehidupan ini dan akan menghasilkan 'buah' kehidupan yang baik pula. Jadi hendaknya pupuk yang dipakai adalah pupuk 'Ikhlas' dan disinari cahaya 'rohaniyah' yang berupa: 1. Membaca Al Kitab 2. Menghadiri Pengajian / kebaktian 3. Mendengarkan Kutbah, Tauziah, ataupun Mimbar Agama yang
menuntun
ke arah kebaikan
Tetapi sebaliknya apabila semua itu ditinggalkan , maka akan mati merana dan sia - sia benih kehidupan ini. B. TAK IJO ROYO - ROYO, TAK SENGGUH PENGANTEN ANYAR Mengandung makna dibuat tumbuh subur, daunnya hijau segar. Menekankan penampilan tentang pribadi manusia yang sehat jasmani dan rohani, karena benih iman
(Islam) tadi selalu dirawat dengan baik maka akan tumbuh "Ijo royo-royo" , akan berbahagia karena akan menjadi umat yang baik, karena kelak akan tersedia surga baginya.
"Tak sengguh penganten anyar", Pengantin baru adalah orang yang sangat berbahagia hidupnya. Demikian juga dengan orang yang telah bersanding dengan keyakinan Iman. Iman yang baik seperti tergambar sebagai "tak ijo royo-royo" tadi harus selalu di jaga dan dirawat , laksana tumbuhan yang hijau dan subur. kebal terhadap hama-hama yang mengganggunya. Guna menjaga iman agar selalu baik dan tumbuh subur maka manusia wajib menghalau tindak Kemunkaran.
Berzina, berjudi, mabuk itu semua adalah contoh hama iman yang ada pada diri manusia. Wajiblah hukumnya untuk bersegera memberantasnya agar Iman kita tetap "tak Ijo royo-royo" sehingga kita mampu menjadi seorang manusia yang berbahagia "Tak sengguh pengantin anyar"
C. CAH ANGON - CAH ANGON PENEKEN BLIMBING KUWI Cah angon mempunyai arti "anak gembala" Disana kata "Cah angon" disebut berulang dua kali. Berarti mengandung arti kata perintah yang sangat penting. Ya, Perintah "Penek'en blimbing kuwi" dan yang di perintah adalah 'cah angon' (gembala). Karena sifatnya perintah maka yang biasa diperintah adalah bawahan, atau setidaknya kedudukannya lebih rendah dibanding yang memerintah. "Penek'en blimbing kuwi", Panjatlah belimbing itu. Di sebut gembala berarti ada yang di gembalakannya Tak lain yang digembalakannya adalah Nafsu-nafsunya. Karena bila nafsu tak digembalakan maka akan dapat merusak aturan, sekehendak hatinya sendiri. Sebebas- bebasnya bertindak, karena tak ada yang "angon" tak ada yang menggembala. Jadi pribadi manusia sendiri harus mampu menjadi gembala yang baik. Agar nantinya nafsu-nafsu itu dapat diarahkan sesuai perintah ajaran agama. "Penek'en blimbing kuwi" Yang diperintah adalah agar memanjat pohon belimbing. Dengan alasan bahwa buah belimbing mempunyai lima sisi. Dapat di definisikan dengan bermacam hal. Sebagi umat Islam cocok dengan ajaran Rukun Islam Yang jumlahnya ada lima, Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, Haji. Bisa juga di definisikan sebagai mencegah yang lima hal juga, yaitu 'MoLiMo", Madat, Mabok, Main, Maling, lan Madon. Bahkan bisa juga untuk jaman Indonesia sekarang ini sebagai pencerminan Pancasila yan lima sila itu. D. DODOTTIRO - DODOTIRO KUMITIR BEDAH ING PINGGIR, DONDOMANA JLUMATANA, KANGGO SEBA MENGKO SORE Dodot adalah "ageman" (pakaian). Menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. Sedang "kumitir bedahing pingir" artinya adanya banyak robekan - robekan dibagian tepi menjadikan ageman itu tadi cacat atau rusak, sehingga tak layak lagi tuk di pakai dan hendaknya sesegera mungkin dapat di perbaiki. Dari hal tersebut selanjutnya ada perintah "Dondomana, Jlumatana", jahitlah dan perbaikilah bagian yang robek tadi agar pantes untuk dipakai kembali. Sama halnya dengan kepercayaan kita yang telah rusak oleh dosa-dosa, hendaklah sesegera mungkin bertobat dan kembali melakukan ajaran agama dan kepercayaannya dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu. Harus setiap hari mengingatNYA. "Kanggo Seba Mengko Sore" maksudnya adalah Buat bekal menghadap Yang Maha Kuasa, "Sore" adalah waktu senja kita didunia ini. Dan juga sebagai bukti pertanggungjawaban kita sewaktu ditanyakan mengenai amal ibadah pada pertanyaan Malaikat di alam Kubur nanti. E. MUMPUNG PADHANG REMBULANE, MUMPUNG JEMBAR KALANGANE Artinya mumpung terang bulan, jelas pada waktu malam hari. Malam tanpa sinar bulan adalah gelap gulita, dimana orang tak dapat melihat apa-apa. Ini dimaksudkan disaat gelap orang sukar untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang Halal dan mana yang haram, semua masih terasa semu. Untuk itu dengan adanya sinar Iman hendaknya dapat menghasilkan Cahaya layaknya cahaya "padang rembulan", sehingga manusia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang kurang baik. "Mumpung Jembar Kalangane" adalah luasnya area sinar bulan tadi menerangi kita umat manusia ini. Jadi arti keseluruhannya adalah Mumpung masih ada kesempatan bertobat untuk "menek blimbing" itu. E. YO SURAK'O SURAK HORE Mari bersorak, adalah ajakan untuk melampiaskan kepuasan. Mengapa harus bersenang-senang, Berbahagia..? Ya, tak lain adalah karena telah berhasil melaksanakan perintah memanjat belimbing tadi. Kita umat manusia diibaratkan hanya sebagai "Cah Angon" yang pasti mempunyai juragan ataupun Bos dari angonan (peliharaan) kita tersebut, Yang tak lain Bos itu adalah Yang Maha Mempunyai. Jadi bukan untuk mempengaruhi anda yang telah beragama dan berkeyakinan, terlepas dari ajaran agama dan keyakinan apapun itu, marilah kita semua saling menyadari sebagai umatNYA yang hanya sesosok Gembala ini untuk saling menjaga 'Nafsu' yang kita gembalakan ini.


read more >>

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah salah satu dari "Wali Sanga". Beliau adalah satu-satunya wali yang asli berasal dari keturunan tanah Jawa. Maka dari itu dalam menjalankan misi dakwahnya beliau selalu menggunakan cara-cara Jawa "Kejawen" agar mudah difahami oleh semua golongan Masyarakat Jawa, baik awam maupun kalanganm Ningrat. Hal inilah yang membuat beliau juga dikenal dengan ajaran Dakwahnya yang menggunakan sarana Kebudayaan. Beliau mengambil kebijaksanaan tersendiri, Orang Jawa tetaplah bisa menjadi "orang Jawa", Berkebudayaan Jawa, Tak perlu diganti langsung dengan kebudayaan Bangsa Arab. Hanya dalam hal kepercayaan saja perlu di ajarkan tentang Kepercayaan Islam dalam pengertian yang dalam, sudah barang tentu berasal dari Bangsa Arab. Sunan Kalijaga tidak menghapus Seni dan budaya Jawa, cuma diberi warna Islami. Upacara adat diberi warna do'a Islami, Pementasan Wayang Kulit dirubah bentuknya sedemikian rupa, sehingga tidak menyalahi hukum Islam. Salah satu peninggalan budaya Islami dari Kanjeng Sunan Kalijaga adalah "Dhandhanggula Babad Demak" dan tembang "Ilir-ilir" Kesemua tembang tersebut dimaksudkan untuk tujuan Dakwah. Tembang Ilir-ilir termasuk tembang dolanan yang terkenal sampai dengan saat ini, walaupun bersifat tembang dolanan (mainan) namun tembang itu mengandung nilai yang sangat tinggi... To be Continous @ "tembang Ilir-ilir"...
Tombo Ati - Campursari Wali Songo

read more >>

Tuesday, October 7, 2008

Cangkul

Salah satu lagu anak sebagai satu karya penghargaan terhadap petani yang memang sudah selayaknya, sangat memadai. Salah satu liriknya...
Menanam jagung dikebun kita...
Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam...

Dari lirik tersebut tertangkap spirit suka cita yang ada dibalik semua kegiatan petani. Disamping itu juga mengandung pesan kepada kita untuk tetap bisa mencangkul yang dalam.
Bagi temen-temen yang telah lama hidup dikota yang tak mengenal sawah bisa jadi ini tidak berarti apa-apa. Tetapi bagi para petani yang kesehariannya memegang pacul, hal ini mengandung pesan yang mendalam

Layak kita renungkan bahwa melalui tangan para petani, kekuatan -kekuatan yang tadinya tak terlihat akhirnya dapat terkuak. Melalui tangan petani pula, barang yang tadinya berbau busuk sekalipun bisa berubah menjadi pupuk yang kemudian menghasilkan buah.
Hal ini dapat kita refleksikan dalam memhami hidup dan kehidupan ini.. Semuanya serba berubah.... Kita tahu Harley Davidson itu pada era 80'an hanyalah pecundang di Amrik sana, tapi lewat ketekunan tangan-tangan kecilnya apa yang kita lihat mulai awal 90'an sampai dengan sekarang..? Ditangan Nelson Mandela pula kebencian terhadap kulit hitam diubah menjadikemajuan Afrika Selatan.

Tindakan "mencangkul yang dalam" semoga dapat kita jadikan inspirasi. Bukan mencangkul tanah yang berada diluar saja, namun hendaknya lebih fokus untuk mencangkul tanah yang ada di dalam. Tanah-tanah pengertian, pemahaman, penerimaan, cinta, dan tanah-tanah rasa syukur. Karena tatkala manusia membuat tindakan 'mencangkul yang dalam' maka akan menemukan perwujudan nyata Tuhan di hadapan kita.

CAPING GUNUNG - NURHANA

read more >>

Monday, October 6, 2008

Harmoni Keabadian ...

An authentically empowered humanbeing is clear in his perception and thinking, Clarity is the perception of wisdom. It is seeing with wisdom. (Gary Zukav - The seat of The soul)
Hari ini adalah hidup yang bergerak Adalah waktu yang pasti berubah Kalaupun kita manusia tetep pingin menetap Tak ayal akan tertendang perubahan Entah persukacitaan atau perdukacitaan Matahari menerangi tak bertanya tentang syarat Bulanpun tersenyum pada siapa saja Dan laut..... apapun, siapapun bakal diterimanya Inilah satu alasan keabadian..... Semoga kita bisa seperti segalanya Tetap berpelukan cinta dalam suka atau duka Menantang naik ataupun turun Tetap tergoda duka disamping tawa Tetap nikmati teduh rasa biarpun panas Kerana berani ataupun takut tak lain adalah pesan bijak Tetap Syukur tanpa harta apalagi tahta Berjalan terang dan melihat jelas tiada pendiktean asa Mati pun tak takut sebab berbekas makna

Harmony - Padi

read more >>

Friday, October 3, 2008

Madhang...

Berawal dari baca obrolan temen-temen Mulkipli tercintaku... Berikut akan saya coba mendefinisikan kata makan menurut bahasa Jawa semoga bisa menambah kosakata buat warga nJoWO semuanya...
  • Madhang, ada yang mengartikan madhang dari kata dasar (ater-ater) 'padhang' yang artinya adalah terang. Madhang bisa diartikan dengan makan yang setelahnya akan menyebabkan pengelihatan mata ini jadi padhang (terang). Dipakai sebagai bahasa sehari-hari (ngoko)
  • Mangan, berasal dari kata 'mengo' yang artinya adalah 'terbuka'. Mangan adalah membuka mulut untuk dimasuki makanan. Pemakainnya adalah dalam bahasa pergaulan keseharian juga. (ngoko)
  • Dalad, sebenarnya artinya adalah 'mangan' juga. Bahasa ini dikenal oleh mereka yang sering menggunakan Bahasa Prokemnya orang Jokja...Seperti dalam menyebut Dagadu yang berarti Matamu, atau kata Dab sama dengan Mas. Dipraktekan sebagai bahasa 'Japemethe' (cahe dhewe / temen sendiri)
  • Dahar, awalnya mbah saya pernah bilang kalau pingin banyak mendapatkan nilai bagus disekolah atau laris dagangannya bisa terjual habis, mendapatkan rejeki banyak maka sering-seringlah kita melaksanakan Sholat Duha dipagi hari. Nah dari sini kata dahar itu berasal, yang didefinisikan sebagai hasil menikmati rejeki dari yang maha Memberi. Karena itu pula maka kata dahar dipakai sebagai bahasa yang "halus" ditujukan kepada orang yang kita hormati atau lebih tua. (Kromo Inggil)
  • Nedho, Dari kata tentremke dhadha. Maksudnya adalah bahwa didalam dada itu ada bermacam alat - alat yang berfungsi menjaga kelangsungan hidup. Ada perut, ada hati, ada jantung, ada usus, ginjal, dan lain sebagainya. Mereka semua butuh tenaga, untuk itu supaya isi dada bisa tenteram maka perlu di isi. ';Nedho' - Menentramkan dada, digunakan untuk bahasa halus sesama satu strata (Krama alus)
  • Nguntal
  • Mbadhog
  • Nyekek, Ketiga kata ini di kategorikan sebagai bahasa yang kasar bahkan sangat kasar. Dan untuk sejarah bahasa tersebut sayang sekali saya secara pribadi belum pernah dengar ceritanya. Mungkin karena orang tua dulu nggak mau mengajarkan hal yang tidak baik kepada anak-anaknya, termasuk saya. Kalau ada temen-temen punya informasi saya tunggu sharing nya.
Selain itu masih ada istilah lainnya yang berhubungan dengan kata"Mangan" :
  • Tanduk, dari kata 'tando' yang berarti timbunan. Tanduk adalah me'nimbun' atau me'nambah'... jadi menambah makan dalam piring yang sama.
  • Sarapan, orang dahulu banyak yang prihatin dan 'nglakoni' , jadi mereka jarang sekali bisa makan tiap hari. Nah dari sini maka timbul kata 'sarapan' dari awal kata dasarnya "serep", artinya adalah cadangan. Bahwa bagi orang-orang dahulu itu makan pagi bersifat cadangan.
  • Mindho, Berasal dari kata 'pindho' artinya yang kedua, karena yang pertama adalah 'pisan' dan yang ketiga = telu. Disama artikan bahwa 'mindho' adalah makan yang kedua kalinya. Berarti mindho juga bisa didefisikan sebagai makan siang (lunch) karena makan yang kedua dalam hari yang sama.
  • Rolasan, Dari kata 'rolas' yang artinya bilangan "keduabelas". Rolasan adalah waktu nya makan pada sekitar pukul 12.00 siang. Sama artinya dengan lunch.
  • Wolon, Berasal dari kata dasar 'wolu' yang artinya bilangan ke-delapan. Yaitu makan pada pukul 8.00 pagi. biasanya berupa makanan ringan (jadah, tempe, dll) sambil ngeteh atau ngopi...
* Ingon = makan bareng-bareng dan rame-rame, biasanya ditempat orang punya gawe/ hajat ===> Temen-temen ada yang mau nambahin...? Please be so kindly... Dudho Kasmaran - Koko Thole

read more >>
 

Copyright © 2011 | Maztrie™ MirrorPot | Ubet Ngliwet, Ngglibet Nglamet | by ikanmasteri